Selasa, 08 Januari 2013

(Kelak) Dosenku Bukan Mimpi Burukku

Setiap mahasiswa Indonesia, dimana pun ia menempuh kuliah, sudah tentu akan selalu menginginkan hal sebagaimana yang tertulis di judul. Paradigma mahasiswa Indonesia, entah siapa yang memulainya, selalu menempatkan dosen sebagai suatu nightmare

Kaku, otoriter, tidak membimbing, hingga kesannya mempersulit, begitu banyak keluhan yang dapat kita searching di jejaring sosial. Mahasiswa yang seakan tidak berdaya menghadapi sistem yang diterapkan oleh dosen bahkan banyak yang menumpahkan unek - unek dengan membuat akun nuansa joke untuk mengkritisi permasalahan kampus. Sebut saja, @yeahmahasiswa @deritamahasiswa dan mungkin masih banyak lagi lainnya. Hal ini mencerminkan bagaimana budaya pendidikan tinggi Indonesia yang menurut saya akan menjadi lingkaran setam, sehingga apabila mahasiswa tersebut tamat, maka sifat otoriter, temperamen, bahkan angkuh bisa saja terbawa ke dalam dunia sosial. Banyak para teknokrat di negeri ini yang memiliki pendidikan yang tinggi tapi tidak berhasil, bahkan di bui, atau melakukan hal negatif lainnya. Tak heran saya sempat mendengar suatu pernyataan di stasiun TV, agar jangan sampai kampus menjadi tempat mencetak calon - calon koruptor berikutnya.

Suasana akademis dengan lingkungan sosial yang bersahabat seharusnya dibangun dalam atmosfer kampus. Bagaimana dosen dapat berinteraksi dengan mahasiswa tanpa perasaan lebih tinggi. Bagaimana mahasiswa tidak merasa takut (segan tetap iya), apabila ingin meng-sms dosen untuk bimbingan. Atau bahkan bagaimana dosen dan mahasiswa dapat berkomunikasi layaknya orang tua dan anak di dalam kelas, dan layaknya teman di dalam kelas.

Atmosfer bersahabat tersebut banyak saya lihat di film - film barat, yang menampilkan kehidupan mahasiswa dan dosen yang bergitu erat (misalnya film spiderman ada tuh part yang memperlihatkan peter dan dosennya terlihat begitu akrab). Lalu mengapa di Indonesia dengan budaya timur malah sebaliknya?

Banyak orang bilang, mungkin kesulitan mahasiswa berinteraksi dengan dosen adalah suatu tantangan. Karena sesungguhnya saya pun berpendapat ketika pertama kali menginjakkan kampusm berarti kita sudah siap dengan semua resiko. Challange and get a difficult situation is a different. Ketika suatu tantangan telah berubah menjadi kesulitan, maka itu sudah menjadi hambatan. Dan akibat bagi mahasiswa jelas adalah, Nightmare!

Saat ini saya juga sedang berprofesi sebagai dosen di salah satu PTS, dengan prinsip "a lecturer that you can meet everyday". Berusaha mengakrabkan diri dengan mahasiswa, namun tetap berwibawa di kelas, sehingga walaupun mahasiswa saya nanti tamat dan sukses, ia tidak akan tenggelam ke dalam lingakaran setan yang tidak bisa ia lepaskan

*tulisan ini bukan untuk mengintervensi apapun - siapapun. Pure hanya berpendapat mengenai academic social problem". Peace!

Nakagawa Haruka - Stella Cornelia JKT48

0 komentar:

Posting Komentar