Pusing dan merepotkan. 2 kata ini terus berputar di
kepala apabila harus mengingat beban tugas akhir semester perkuliahan. Tengat waktu
yang diberikan sampai kapan pun terasa kurang untuk menyelesaikan laporan 50
halaman mata kuliah hukum lingkungan. Bahkan sampai sempat terlintas, “apa tugas
penelitian lapangan ini copy paste saja” (mahasiswa baik jangan ditiru ya).
Tema laporan sedikit pun tak terpikirkan sampai suatu
keadaan memaksa (overmaacht) terjadi di rumah. Betul, air ledeng seharian mati!
(ini nyata). Entah kutukan *lebay* apa yang ada, tetapi permasalahan air ngadat
ini selalu keluarga kami alami dimana pun kami tinggal (sebelum pindah ke Bali,
kami tinggal di Samarinda). Setiap 2 kali seminggu harus beli air galon isi
ulang buat minum, terkadang bak mandi juga jarang terisi penuh padahal tagihan
air selalu dibayarkan tepat waktu. Namun yang menjadi pemikiran kecil saya
bukan masalah komplain atau apa (mungkin karena sudah terbiasa sulit air),
tetapi bagaimana nasib orang – orang yang tinggal di gunung sana. Bukan
bermaksud untuk mendeskriditkan, tetapi penduduk yang tinggal di kota saja kesulitan air ledeng, apalagi yang tinggal di daerah gunung. Asumsi sederhana itu
menuntun saya untuk memeriksa kebenarannya (sebenarnya tetap buat
menyelesikan tugas penelitian ini).
Lokasi yang saya datangi adalah Desa Adat Padang Aji yang
berada di Kabupaten Karang Asem sebagai daerah yang berjarak dekat dengan Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali.
Secara kontur geografis, desa ini berada di ketinggian yang bagi saya adalah
hal yang sulit air ledeng dapat mengalir dengan lancar. Daerah perbukitan, medan yang terjal,
jalan yang berliku – liku khas daerah pegunungan, sebagai orang awam saya tidak
bisa membayangkan bagaimana warga desa ini mendapatkan air untuk kebutuhan
hidup sehari – hari, terutama air minum.
![]() |
- Tapal batas Desa Adat Padang Aji - |
Bertemu dengan Bapak I Gusti Made Rai selaku pemuka adat atau yang di Bali disebut
dengan “Kelian Adat” adalah hal yang pertama saya lakukan sebelum melihat
bagaimana kondisi air di Desa Padang Aji secara riil. Menurut penuturan
Kelian Adat, bahwa ternyata di desa ini memiliki sumber mata air bernama Toya
Magenda yang dikelola secara adat untuk memenuhi kebutuhan air warga sehari –
hari, termasuk untuk kebutuhan minum. Beliau menjelaskan bahwa filosofi Tri
Hita Karana menjadi aspek yang harus dipegang teguh dalam pengelolaan sumber air, yaitu Parahyangan (hubungan manusia kepada Tuhan), Palemahan (hubungan
manusia dengan lingkungan), dan Pawongan (hubungan antar sesama manusia).
Keberadaan awig – awig masyarakat Desa Padang Aji berperan dalam mewujudkan filosofi
tersebut. Sedikit mendefinisikan secara sederhana bahwa awig – awig adalah pedoman dalam berperilaku dan bertingkah laku yang
mengandung sifat mengatur dan memaksa demi terciptanya keserasian dan
ketentraman masyarakat setempat.[1]
Awig – awig ini digunakan sebagai instrumen hukum adat termasuk dalam konteks
perlindungan dan pengelolaan sumber air, seperti adanya kewajiban
menyelenggarakan ritual keagaman yaitu Upacara Tawur untuk memberikan rasa
hormat kepada bhatara yang berstana
di sumber air serta menjaga kebersihan air secara niskala (parahyangan),
kewajiban untuk bergotong royong membersihkan saluran air (palemahan), serta
pengaturan subak sebagai sistem pengelolaan dan pelestarian air tradisional
asli Bali yang menekankan prinsip keadilan (pawongan).
![]() |
- Jalan setapak menuju sumber air - |
![]() |
- Pura yang berada di dekat sumber air - |
Tidak lengkap rasanya apabila tidak melihat kondisi di
lapangan secara langsung, apakah air bersih memang tersedia di desa ini atau
justru serupa dengan apa yang terjadi di perkotaan. Melewati jalan setapak yang
cukup jauh dengan dikelilingi hutan bambu bersama Bapak I Gusti Ngurah Bagus
Astawa, SH sampai ke tujuan, hati saya dibuat terpesona mengakui bahwa ciptaan
Tuhan memanglah Maha Agung. Air jernih yang mengalir deras, pengelolaan
pengairan subak yang tertata rapi, anak – anak yang bermain kail pancing ikan
di tepi sungai. Hanya kata iri yang dapat mendeskripsikan perasaan negatif saya.
![]() |
- Disebut sebagai "campuhan" atau pertemuan 2 aliran air - |
Penasaran apakah air disini bisa langsung diminum,
saya pun beranjak ke sebuah pancuran bambu dan mencoba meminum air tersebut. Rasa
dingin yang mengalir di kerongkongan menyebarkan kesegaran yang tidak pernah
saya dapatkan secara alami di kota. Mungkin seperti ini yang namanya air surga di dunia.
Seumur – umur saya belum pernah meminum air langsung dari sumbernya tanpa harus dituang lagi lewat ceret (teko).
Terlintas dalam pemikiran saya bagaimana bisa di
daerah perbukitan seperti ini bisa mendapat air bersih melimpah. Dikatakan bahwa
sumber air tidak lain adalah berasal dari vegetasi tanaman. Memang tampak
tumbuhan dan bambu yang tumbuh di desa ini masih sangat asri, namun sayang
beberapa kali terlihat warga yang mulai menebang bambu untuk memenuhi kebutuhan sehari –
hari. Suatu saat mungkin desa ini akan sangat membutuhkan sosialisasi dan pemahaman agar kelestarian air selalu terjaga dan
kesulitan air minum yang sehat tidak pernah dialami di sini.
![]() |
- Vegetasi tanaman menjadi sumber air alami - |
Masyarakat Desa Padang Aji yang sebagian besar bekerja
sebagai petani menjadikan air sebagai bagian dari hidup mereka yang harus
dijaga. Pelestarian sumber air yang beranjak dari konsep filosofi agama menjadi pondasi di desa kecil ini dan seharusnya melecut motivasi semua elemen bangsa
untuk menjaga sumber – sumber air di negeri yang makmur ini. Berharap untuk merasakan
kesegaran air dewata mungkin adalah hal yang tidak mungkin. Namun mimpi mendapatkan
kesegaran air minum sehat untuk generasi yang akan datang tetap selalu ada.
![]() |
- Toya Magenda - |
"Jadi siapa yang mau mengerjakan tugas saya sekarang?"
[1] AA. Istri Ari Atu Dewi, 2008, “Eksistensi
Sanksi Adat Kasepekang dalam Awig – Awig dalam Kaiannya dengan Penjatuhan
Sanksi Adat Kasepekang di Desa Pakraman”. Jurnal
Ilmiah Kertha Patrika Vol. 34 No.1, Fakultas Hukum Universitas Udayana,
Denpasar, hal. 50.
keren nih tulisan qe...
BalasHapuslangsung ke TKP gan?? mantep
BalasHapusClick to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.